Langsung ke konten utama

Rangkuman Novel "Relung-relung Gelap Hati Sisi"

Sekilas, dapat ditarik bahwa dari judul yang dihadirkan akan ditemui karakter berbeda dalam diri seseorang. Setiap orang memiliki rahasia di balik karakter yang terlihat. Salah satu ketertarikan saya memilih novel tersebut sebagai bacaan karena tidak sengaja menonton televisi dengan tayangan sosok inspiratif yang berprofesi sebagai dokter, tetapi memiliki segudang karya kepenulisan cerita fiksi, yaitu novel. Beliau adalah Mira W. Novel berjudul Relung-relung Gelap Hati Sisi yang saya baca ini diterbitkan pada tahun 2009 dengan 275 halaman yang saya beli di Pasar Buku Wilis, Malang pada bulan-bulan akhir di tahun 2015. Saya menemukan buku catatan saya yang berisi rangkaian ringkasan buku dan rasanya sayang jika tidak diabadikan di blog saya. Setiap karangan memiliki nyawa, menimbulkan emosi, rasa penasaran beserta jawabannya. Inilah sekilas rangkuman novel karya Mira W. dengan judul Relung-relung Gelap Hati Sisi.             Seorang ...

Kata dan Angka | Cerpen

 

Menangkap. Bagaimana saya bisa menangkap. Ketika semua lewat dan saya diam. Saya biarkan. Lewat ya lewat sana. Mau marah silakan. Mau puji silakan. Mau ngajak kerja sama? Ogah! Lhoh kok mbesengut. Lha gimana, wong saya hanya wong. Kok mau diajak kongkalikong. Ya nggak bisa. Takut saya. Bagaimana nanti tanggapan orang tua saya, saudara, tetangga, teman, dan lainnya. Wong saya ndak berhak kok diberhak-berhakin. Anda ngancam? Silakan.

Hidup ini bukan sekadar hidup. Kita dilahirkan untuk berbuat baik, tapi tidak dengan kerja sama. Apa gunanya kerja sama kalau untuk memburu keping emas? Ya, saya tahu. Apapun barang bisa dibeli dengan keping kesilauan itu. Tapi, mbokya dipahami. Kalau mau beraksi, pikir-pikir dulu. Apa efeknya. Ada nggak.

Kita ini hidup cuma sekali. Bukan spidermen, supermen, yang bisa sleat-sleot menghindari kejaran peluru. Lhoh jangan-jangan Anda memang maunya jadi super hero. Boleh. Silakan. Nggak ada yang nglarang.

Anda tanya saya, pengen jadi apa? Apa pentingnya buat Anda. Saya ya saya, tidak bisa jadi Anda.

“Ngomong apa sih Lot, dari tadi kok ngomong sendiri.” tanya lelaki beruban yang sedang mengelu-elus jenggot.

“Ngapunten, mbah, saya hanya acting drama,” jawab Slolot.

“Lhoh, mau dipentaskan toh?”

“Inggih, Mbah.”

“Kapan?”

“Mbenjang, menawi pun kepilih dados bupati.”

“Lhoh-lhoh opo maksudmu?”

“Mboten, Mbah. Mbah niko lo langite pun ngawe-ngawe.”

“Haduh, Lot. Senenganmu lek nyleotne omongan.”

Cahaya jingga perlahan menyebar memenuhi langit dan menjadikannya riang dengan warna kuning muda yang semakin ke atas semakin tajam. Semakin ke atas dan melebar ke kanan dan ke kiri melesat tak bertepi menyuguhkan kolabrosi warna jingga dengan ungu. Lalu, langit menjadi latar dari gundukan tanah raksasa berwana cokelat tua dengan bentuk naik turun bak neraca perdagangan yang berfluktuasi hingga pada tempat tertentu mencapai keadaan paling turun dengan beberapa jarak cekung dan perlahan naik yang kemudian ruang lengkung tersebut ditempati oleh cahaya putih semburat kuning paling muda berbentuk telur angsa yang pecah semakin melebar menyemburatkan warna terbaiknya hingga akhirnya tertutup warna hitam seluruhnya. Slorot meresapi keindahan seja bersama singgahnya kenangan masa lalu.  Ia bergumam, “Seandainya, Itulah kata pertama yang keluar dari pikirannya. mengapa dulu aku tidak.. disusul kata kedua tersebut dan bersambung kembali dengan kata pertama, seandainya.

Seseorang tiba-tiba terlihat kebingungan. Beberapa dari mereka terlihat santai. Beberapa tenang, beberapa diam. Mereka menatap lembar putih berisi kata dan angka. Sebuah pensil terpegang rapat di antara jari telunjuk, tengah, dan jempol, megukir untaian coretan pada kertas buram di samping naskah. Senyum menyimpul tatkala angka yang dicari tertemukan.

Berada di barisan depan dengan letak di sebelah tembok seorang siswa bernama Indro mengayun-ayunkan bolpoinnya, menepuk-nepuk dengkulnya, dan mencari sebuah benda. Ia kemudian menggenggam penggaris. Benda dalam genggaman tangannya tersebut diberikan kepada teman di sebelahnya dan terjadilah barter. Anehnya, lipatan kertas berukuran kecil terselip di antara pertukaran barang tersebut. Satu siswa mendapat penggaris, siswa satunya mendapat lipatan kertas. Senyum kedua siswa tersimpul bersama senyum polelaki paruh baya yang menempati bangku tersepan menghadap para siswa. Dua orang yang merasa ditatap kini saling tatap dengan reaksi senyum yang berbeda.

Desas-desus lirih terdengar menyelimuti kelas yang diapit kelas-kelas lain. Anehnya semua kelas-kelas yang mengapit begitu tenang hampir-hampir hanya detak jarum jam yang membersamai.  Dari sisi kiri terlihat seorang siswi yang menempelkan jemarinya pada jidat. Siswa di depannya menggesek-gesekkan penggaris di meja kayunya sementara siswa lain yang berada di sisi kanannyaterlihat membolak-balikkan kertas dan merapikan rambut yang telah rapi sembari menengok ke arah penuh waspada terhadap lelaki paruh baya di depannya.

Detik jarum terus berputar dan nyaris tak terdengar hingga mengubah perilaku siswa-siswa yang berada di kelas berseragam abu-abu mngeluarkan sas-sus suara. Suara ketukan pensil dibunyikan berkali-kali oleh salah seorang pemuda dan menutupkan  hidungnya dengan dasi. Seraya bola mata yang mematung sejenak.

Pemuda di barisan belakangnya memajukan letak kursinya diikuti ayunan tangannya yang menyentuuh pundak siswi di depannya. Mulut membuka dan menutup untuk menyampaikan pesan. Saat silelaki paruh baya mendapati perilaku mereka, segera siswi yang dilihatnya membetulkan rok dan dan kerudung putihnya. Di depan, seorang siswa mengembuskan napasnya dengan agak keras dan menoleh mengulurkan tangan ke depan dan membuka beberapa jarinya dengan tatapan mata menajam pada orang yang diajak bicara. Selanjutnya terjadilah anggukan di antara mereka. Siswa dari arah kanan depan memberi kode dengan mengulurkan jemarinya layaknya berfoto. Siswa lain menggelosorkan satu tangannya sembari menarik napas dalam dan mengembuskannya dengan membawa kepasrahan. Lelaki paruh baya tetap di tempatnya memandang dengan tatapan keprihatinan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rangkuman Novel "Robert Anak Surapati"

Bagaimana rasanya apabila Anda berada dalam kondisi membingungkan ketika harus memilih satu di antara dua pilihan negara yang menjadi asal dari orangtua Anda? Pilihan ini sangat berarti bagi salah satu negara untuk melanjutkan misinya. Di sinilah letak putusan dan kebijaksanaan diambil. Terombang-ambing dalam kebimbangan penuh luka mewarnai sebuah cerita berjudul Robert Anak Surapati. Dilahirkan dari ibu berkenegaraan Belanda dan ayah dari Indonesia. Selamat membaca! Semoga bermanfaat! sumber: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgtuOT1GARbrkUv-0wGtnLiBXoq8xnr-lfa2OLSj_d9ECQEhbaCtf3mMY4XlupTFhyQ6WdrMVJMlwokcWOlvx9qwz0miJmcjrNyLUz2Ftcml1x0BqSGVc7JlpvF-9LBNkgOLWr4I19t33R1/s1600/robert+imbas.jpg Dikisahkan suatu ketika seorang perempuan merasai kesakitan atas kondisi yang dialaminya. Membawa anak nan masih kecil di sebuah kapal yang akan menuju Negeri Kincir Angin. Tak kuasa menahan sakit dan derita, segeralah disampaikan suatu amanah pada dua oran...

Resensi Novel "Punakawan Menggugat"

  Resensi ini terdiri dari empat bagian berupa orientasi, tafsiran, evaluasi dan rangkuman. Orientasi Judul                : Punakawan Menggugat Penulis              : Ardian Kresna Penerbit            : DIVA Press Tebal Buku       : 366 halaman Tahun terbit      : 2012 Ulasan ini membahas tentang hakikat seorang pemimpin yang dituangkan ke dalam kisah para tokoh Pandhawa dan Kurawa. Para pemimpin terlena pada kemegahan dunia sehingga melalaikan tugas terhadap rakyatnya. Empat punakawan/abdi (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) turut mewarnai setiap tindakan para tokoh dan tiga dari mereka menginginkan kedudukan. Disertai kisah cinta yang mengharukan, terbalut rapi dalam novel berjudul “Punakawan Menggugat”.  Tafsiran  ...

Rangkuman Novel "Relung-relung Gelap Hati Sisi"

Sekilas, dapat ditarik bahwa dari judul yang dihadirkan akan ditemui karakter berbeda dalam diri seseorang. Setiap orang memiliki rahasia di balik karakter yang terlihat. Salah satu ketertarikan saya memilih novel tersebut sebagai bacaan karena tidak sengaja menonton televisi dengan tayangan sosok inspiratif yang berprofesi sebagai dokter, tetapi memiliki segudang karya kepenulisan cerita fiksi, yaitu novel. Beliau adalah Mira W. Novel berjudul Relung-relung Gelap Hati Sisi yang saya baca ini diterbitkan pada tahun 2009 dengan 275 halaman yang saya beli di Pasar Buku Wilis, Malang pada bulan-bulan akhir di tahun 2015. Saya menemukan buku catatan saya yang berisi rangkaian ringkasan buku dan rasanya sayang jika tidak diabadikan di blog saya. Setiap karangan memiliki nyawa, menimbulkan emosi, rasa penasaran beserta jawabannya. Inilah sekilas rangkuman novel karya Mira W. dengan judul Relung-relung Gelap Hati Sisi.             Seorang ...