Menangkap. Bagaimana saya bisa menangkap. Ketika semua lewat dan saya diam. Saya biarkan. Lewat ya lewat sana. Mau marah silakan. Mau puji silakan. Mau ngajak kerja sama? Ogah! Lhoh kok mbesengut. Lha gimana, wong saya hanya wong. Kok mau diajak kongkalikong. Ya nggak bisa. Takut saya. Bagaimana nanti tanggapan orang tua saya, saudara, tetangga, teman, dan lainnya. Wong saya ndak berhak kok diberhak-berhakin. Anda ngancam? Silakan.
Hidup ini bukan sekadar hidup. Kita dilahirkan untuk berbuat baik, tapi tidak dengan kerja sama. Apa gunanya kerja sama kalau untuk memburu keping emas? Ya, saya tahu. Apapun barang bisa dibeli dengan keping kesilauan itu. Tapi, mbokya dipahami. Kalau mau beraksi, pikir-pikir dulu. Apa efeknya. Ada nggak.
Kita ini hidup cuma sekali. Bukan spidermen, supermen, yang bisa sleat-sleot menghindari kejaran peluru. Lhoh jangan-jangan Anda memang maunya jadi super hero. Boleh. Silakan. Nggak ada yang nglarang.
Anda tanya saya, pengen jadi apa? Apa pentingnya buat Anda. Saya ya saya, tidak bisa jadi Anda.
“Ngomong apa sih Lot, dari tadi kok ngomong sendiri.” tanya lelaki beruban yang sedang mengelu-elus jenggot.
“Ngapunten, mbah, saya hanya acting drama,” jawab Slolot.
“Lhoh, mau dipentaskan toh?”
“Inggih, Mbah.”
“Kapan?”
“Mbenjang, menawi pun kepilih dados bupati.”
“Lhoh-lhoh opo maksudmu?”
“Mboten, Mbah. Mbah niko lo langite pun ngawe-ngawe.”
“Haduh, Lot. Senenganmu lek nyleotne omongan.”
Cahaya jingga perlahan menyebar memenuhi langit dan menjadikannya riang dengan warna kuning muda yang semakin ke atas semakin tajam. Semakin ke atas dan melebar ke kanan dan ke kiri melesat tak bertepi menyuguhkan kolabrosi warna jingga dengan ungu. Lalu, langit menjadi latar dari gundukan tanah raksasa berwana cokelat tua dengan bentuk naik turun bak neraca perdagangan yang berfluktuasi hingga pada tempat tertentu mencapai keadaan paling turun dengan beberapa jarak cekung dan perlahan naik yang kemudian ruang lengkung tersebut ditempati oleh cahaya putih semburat kuning paling muda berbentuk telur angsa yang pecah semakin melebar menyemburatkan warna terbaiknya hingga akhirnya tertutup warna hitam seluruhnya. Slorot meresapi keindahan seja bersama singgahnya kenangan masa lalu. Ia bergumam, “Seandainya,” Itulah kata pertama yang keluar dari pikirannya. “mengapa dulu aku tidak..” disusul kata kedua tersebut dan bersambung kembali dengan kata pertama, “seandainya”.
Seseorang tiba-tiba terlihat kebingungan. Beberapa dari mereka terlihat santai. Beberapa tenang, beberapa diam. Mereka menatap lembar putih berisi kata dan angka. Sebuah pensil terpegang rapat di antara jari telunjuk, tengah, dan jempol, megukir untaian coretan pada kertas buram di samping naskah. Senyum menyimpul tatkala angka yang dicari tertemukan.
Berada di barisan depan dengan letak di sebelah tembok seorang siswa bernama Indro mengayun-ayunkan bolpoinnya, menepuk-nepuk dengkulnya, dan mencari sebuah benda. Ia kemudian menggenggam penggaris. Benda dalam genggaman tangannya tersebut diberikan kepada teman di sebelahnya dan terjadilah barter. Anehnya, lipatan kertas berukuran kecil terselip di antara pertukaran barang tersebut. Satu siswa mendapat penggaris, siswa satunya mendapat lipatan kertas. Senyum kedua siswa tersimpul bersama senyum polelaki paruh baya yang menempati bangku tersepan menghadap para siswa. Dua orang yang merasa ditatap kini saling tatap dengan reaksi senyum yang berbeda.
Desas-desus lirih terdengar menyelimuti kelas yang diapit kelas-kelas lain. Anehnya semua kelas-kelas yang mengapit begitu tenang hampir-hampir hanya detak jarum jam yang membersamai. Dari sisi kiri terlihat seorang siswi yang menempelkan jemarinya pada jidat. Siswa di depannya menggesek-gesekkan penggaris di meja kayunya sementara siswa lain yang berada di sisi kanannyaterlihat membolak-balikkan kertas dan merapikan rambut yang telah rapi sembari menengok ke arah penuh waspada terhadap lelaki paruh baya di depannya.
Detik jarum terus berputar dan nyaris tak terdengar hingga mengubah perilaku siswa-siswa yang berada di kelas berseragam abu-abu mngeluarkan sas-sus suara. Suara ketukan pensil dibunyikan berkali-kali oleh salah seorang pemuda dan menutupkan hidungnya dengan dasi. Seraya bola mata yang mematung sejenak.
Pemuda di barisan belakangnya memajukan letak kursinya diikuti ayunan tangannya yang menyentuuh pundak siswi di depannya. Mulut membuka dan menutup untuk menyampaikan pesan. Saat silelaki paruh baya mendapati perilaku mereka, segera siswi yang dilihatnya membetulkan rok dan dan kerudung putihnya. Di depan, seorang siswa mengembuskan napasnya dengan agak keras dan menoleh mengulurkan tangan ke depan dan membuka beberapa jarinya dengan tatapan mata menajam pada orang yang diajak bicara. Selanjutnya terjadilah anggukan di antara mereka. Siswa dari arah kanan depan memberi kode dengan mengulurkan jemarinya layaknya berfoto. Siswa lain menggelosorkan satu tangannya sembari menarik napas dalam dan mengembuskannya dengan membawa kepasrahan. Lelaki paruh baya tetap di tempatnya memandang dengan tatapan keprihatinan.
Komentar
Posting Komentar