Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2018

Rangkuman Novel "Relung-relung Gelap Hati Sisi"

Sekilas, dapat ditarik bahwa dari judul yang dihadirkan akan ditemui karakter berbeda dalam diri seseorang. Setiap orang memiliki rahasia di balik karakter yang terlihat. Salah satu ketertarikan saya memilih novel tersebut sebagai bacaan karena tidak sengaja menonton televisi dengan tayangan sosok inspiratif yang berprofesi sebagai dokter, tetapi memiliki segudang karya kepenulisan cerita fiksi, yaitu novel. Beliau adalah Mira W. Novel berjudul Relung-relung Gelap Hati Sisi yang saya baca ini diterbitkan pada tahun 2009 dengan 275 halaman yang saya beli di Pasar Buku Wilis, Malang pada bulan-bulan akhir di tahun 2015. Saya menemukan buku catatan saya yang berisi rangkaian ringkasan buku dan rasanya sayang jika tidak diabadikan di blog saya. Setiap karangan memiliki nyawa, menimbulkan emosi, rasa penasaran beserta jawabannya. Inilah sekilas rangkuman novel karya Mira W. dengan judul Relung-relung Gelap Hati Sisi.             Seorang ...

Bejo lan Tono (BeNo) 1

Suwara manuk sesautan ana ing wit-witan ijo royo-royo sing mubengi jero kampus. Kupu-kupu jemujulan nguteri kembang aneka warna. Bocah-bocah gemberudul nyangking tas lan buku sing dikempit ing lengene uga mlaku kang cumepet. Sawise pakuliahan isuk mari, bocah-bocah padha gemberuduk metu. Ana sing menyang mesjid, kantin, perpus, lan sapanunggalane. Salah siji panggonan sing rame sing demodolan aneka werna jajanan, uga dibeki para muda-mudi ing wayah srengenge panas-panase. Dheweke padha ngantri pesen salah siji panganan sing dikarepake kanggo ngisi weteng, kayata: soto, bakso, gado-gado, lan pecel. Ora katinggalan uga ombe kanggo nyegerake kerongkongan, kayata: es teh, es jeruk, es setrup, lan saliyane. Para muda-mudi kadelok padha leluwe, amarga mari mikir/sinau ing kelase kang dipimpin kalian Bapak lan Ibu dosen. Katambahan, panggone srengenge pas menthor-menthore ing nduwur sirah, nggarakake awak dadi sumuk. Nambahi kalengkapane nasib, yaiku wis luwe, sumuk pisan. Saka kadohan, ...

Syair Sang Jeda (1)

Waktu menggelinding bak roda Menggelinding tanpa mengenal jeda Adakah gerangan 'kan mengira Hubungan waktu dengan jeda Waktu berkelana tanpa jeda Jeda heran tiada mengira Adakah waktu memusuhi jeda Bilakah iya karena apa Jeda bertanya salahkah ia Hanya inginkan 'tuk bersama Adakah gerangan 'kan mengira Perihal cinta milik jeda Jeda menangis kandas bercita Inginkan waktu temani ia Jeda menepuk perlahan dada Berharap hilang gelora jiwa

Rinduku Padamu

Malang Riuh jemalanan kembali menyapa Potret tetempatan membawa nostalgia Menemui ruang segala cerita Menemui orang berbagi cerita Kampus Sama dan masih sama Ruang dengan segala cerita Bertambah megah nampak mata Bertambah luas kumpulan cerita Teman Bahagia tiada tara terasa Bersama dengan yang tersisa Hanya saja sepi terasa  Mengingat canda dengan mereka Dosen Ingin sekali bertatap mata Berjabat mesra sambil cerita Namun pesan tiada nyata Hanya harap tanpa suara

Mewenter Pikiran

Di suatu siang aku menemukan sebuah celana berwarna hitam yang dijemur di samping rumah. Ku amati lamat-lamat dan kumasuki sebuah cerita.   The power of kejepit atau bisa dibilang pikiran yang kritis, atau lebih ke pikiran buru-buru ataupun refleks, hampir bisa disamakan dengan celana kesayangan. Lho kok bisa? Mereka selalu digunakan dan dipanggil pertama saat dibutuhkan. Kita akan dengan tiba-tiba atau spontan berpikir lebih dalam atau mengkritisi sesuatu ketika menemui kesulitan atau dalam keadaan terdesak. Bener ‘kan? Bisa nggak bisa harus muncul idenya. He..he.. Begitu pula, kita akan memilih dan memakai celana kesayangan yang mungkin menurut kita sangat cocok dan nyaman ketika digunakan, misalnya celana jeans warna hitam. Celana itu akan sering kita pakai, selain menjadi celana kesayangan juga warnanya yang netral cocok dipadukan dengan beragam warna baju. Namun, ketika warna celana mulai memudar, itu berarti tingkat pemakaian sudah terbilang banyak. Bagaimana dengan th...

Cukup Aku Saja yang Mencintaimu

Aku selalu menuliskan kisah tentangmu. Ya, tentangmu. Menyanyikan lagu untukmu.  Membayangkan hari indah bersamamu. Bahkan tak kulihat kekuranganmu. Hanya kelebihanmu. Namun.. Kau tak demikian halnya. Kau mungkin sebaliknya. Tak ada perasaan dan kekhawatiran itu terhadapku. Tergambar dari tak pernahnya kau menghubungiku. Bahkan mungkin memikirkanku. Mungkin perkiraanku benar, mungkin juga salah. Mungkin, aku bukanlah orang yang kau tuju. Mungkin pula, kau tak pernah menyukaiku. Mungkin, cinta ini hanya bertepuk sebelah tangan. Tapi, ketahuilah. Kau pernah ada di benakku. Dulu, hingga... Aku tak bisa memberitahukannya. Entah sekarang, entah esok, entah hanya dulu. Semoga kau selalu bahagia, Walau jika kau tahu tentang kesakitan ini, Ini juga tidak akan menyakitimu. Cukup aku, hanya aku. Saja.  Kau percaya padaku bahwa yang kukatakan ini benar? Bisa jadi, aku bercanda. Bisa jadi, aku membohongimu. Bisa jadi, ini benar. ...