Sekilas, dapat ditarik bahwa dari judul yang dihadirkan akan ditemui karakter berbeda dalam diri seseorang. Setiap orang memiliki rahasia di balik karakter yang terlihat. Salah satu ketertarikan saya memilih novel tersebut sebagai bacaan karena tidak sengaja menonton televisi dengan tayangan sosok inspiratif yang berprofesi sebagai dokter, tetapi memiliki segudang karya kepenulisan cerita fiksi, yaitu novel. Beliau adalah Mira W. Novel berjudul Relung-relung Gelap Hati Sisi yang saya baca ini diterbitkan pada tahun 2009 dengan 275 halaman yang saya beli di Pasar Buku Wilis, Malang pada bulan-bulan akhir di tahun 2015. Saya menemukan buku catatan saya yang berisi rangkaian ringkasan buku dan rasanya sayang jika tidak diabadikan di blog saya. Setiap karangan memiliki nyawa, menimbulkan emosi, rasa penasaran beserta jawabannya. Inilah sekilas rangkuman novel karya Mira W. dengan judul Relung-relung Gelap Hati Sisi. Seorang ...
Di suatu siang aku
menemukan sebuah celana berwarna hitam yang dijemur di samping rumah. Ku amati
lamat-lamat dan kumasuki sebuah cerita.
The power of kejepit atau bisa dibilang pikiran yang kritis, atau lebih
ke pikiran buru-buru ataupun refleks, hampir bisa disamakan dengan celana kesayangan.
Lho kok bisa? Mereka selalu digunakan
dan dipanggil pertama saat dibutuhkan. Kita akan dengan tiba-tiba atau spontan
berpikir lebih dalam atau mengkritisi sesuatu ketika menemui kesulitan atau dalam
keadaan terdesak. Bener ‘kan? Bisa nggak bisa
harus muncul idenya. He..he.. Begitu pula,
kita akan memilih dan memakai celana kesayangan yang mungkin menurut kita sangat
cocok dan nyaman ketika digunakan, misalnya celana jeans warna hitam. Celana itu
akan sering kita pakai, selain menjadi celana kesayangan juga warnanya yang
netral cocok dipadukan dengan beragam warna baju. Namun, ketika warna celana
mulai memudar, itu berarti tingkat pemakaian sudah terbilang banyak. Bagaimana dengan
the power of kejepit? Apakah jika
sering digunakan akan membuat pikiran memudar pula? Saya rasa tidak. Mungkin
malah akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan buruk atau baik nih? Yaa, tergantung persepsi masing-masing orang. Bisa buruk, bisa
baik. Untuk jangka waktu tertentu bisa dikategorikan baik sih kalau memang benar-benar kejepit.
Namun untuk waktu yang lama, mungkin hasilnya kurang memuaskan alias nggak maksimal!
Balik lagi ke topik
awal tentang cerita sebuah celana. Saat saya menemui celana kesayangan saya
yang sudah memudar dan mendapatkannya kembali dalam warna yang cemerlang gegara bekas wenter, saya merasa bahwa
sesuatu yang tadinya saya pikir sudah berakhir, ternyata bisa dengan mudah
memiliki kisah baru alias kagak jadi
berakhir. Lalu saya menganalogikannya dengan yang namanya otak atau pikiran. Mungkin,
kita sering mengeluh atas sesuatu yang kita kerjakan tidak berjalan mulus
sesuai harapan. Bisa jadi itu karena pikiran kita tak cemerlang atau memudar gegara kurang diasah. Wkwkwkwk... Lalu saya kembalikan pada
celana tadi, celana saja bisa menjadi lebih cemerlang dengan bentuk yang tetap,
mengapa pikiran dari seseorang kagak
bisa? Pasti bisa! Saya yakin itu. Mengapa? Hal tersebut mungkin ada kekeliruan
dari cara kita menyusun rencana atau strategi untuk mewujudkan impian kita. Seperti
kata pepatah yang mengatakan intinya, jangan terus-menerus mendayung perahumu,
tetapi berhentilah sejenak untuk melihat arah. Bisa dipahami? Mungkin pula kita
menanam sebuah wortel dan daun yang kita dapatkan terlihat begitu kecil
sehingga kita urung melanjutkan untuk merawat sang wortel, padahal bisa saja
wortel yang tertutup tanah itu memiliki buah yang amat besar walau daunnya
kecil. Bisa jadi bukan? Oleh karena itu, persepsi atau sudut pandang sangat
memengaruhi seseorang dalam bertindak. Padahal ada kata-kata mutiara yang
mengatakan bahwa saya mengubah pikiran saya, maka saya mengubah hidup saya. Kita
sependapat?
Mari kita bersama merenungi, memperbaiki, dan terus membenahi
hal-hal yang dirasa menghambat atau menghalangi impian kita. Yuk, mewenter
pikiran kita agar kita mampu mengubah dunia kita, membebaskan diri dari
keterbelengguan yang mungkin menyiksa diri. Tidak ada perubahan yang instan. Mari
kita buktikan pada dunia, mari kita mulai dengan mencicil sedikit demi sedikit
hingga memadai dan layak untuk diri kita mendapatkan kemenangan tersebut.
Selamat mencoba!
Komentar
Posting Komentar