Langsung ke konten utama

Rangkuman Novel "Relung-relung Gelap Hati Sisi"

Sekilas, dapat ditarik bahwa dari judul yang dihadirkan akan ditemui karakter berbeda dalam diri seseorang. Setiap orang memiliki rahasia di balik karakter yang terlihat. Salah satu ketertarikan saya memilih novel tersebut sebagai bacaan karena tidak sengaja menonton televisi dengan tayangan sosok inspiratif yang berprofesi sebagai dokter, tetapi memiliki segudang karya kepenulisan cerita fiksi, yaitu novel. Beliau adalah Mira W. Novel berjudul Relung-relung Gelap Hati Sisi yang saya baca ini diterbitkan pada tahun 2009 dengan 275 halaman yang saya beli di Pasar Buku Wilis, Malang pada bulan-bulan akhir di tahun 2015. Saya menemukan buku catatan saya yang berisi rangkaian ringkasan buku dan rasanya sayang jika tidak diabadikan di blog saya. Setiap karangan memiliki nyawa, menimbulkan emosi, rasa penasaran beserta jawabannya. Inilah sekilas rangkuman novel karya Mira W. dengan judul Relung-relung Gelap Hati Sisi.             Seorang ...

Rangkuman Novel "Robert Anak Surapati"


Bagaimana rasanya apabila Anda berada dalam kondisi membingungkan ketika harus memilih satu di antara dua pilihan negara yang menjadi asal dari orangtua Anda? Pilihan ini sangat berarti bagi salah satu negara untuk melanjutkan misinya. Di sinilah letak putusan dan kebijaksanaan diambil. Terombang-ambing dalam kebimbangan penuh luka mewarnai sebuah cerita berjudul Robert Anak Surapati. Dilahirkan dari ibu berkenegaraan Belanda dan ayah dari Indonesia. Selamat membaca! Semoga bermanfaat!

Hasil gambar untuk robert anak surapati

sumber: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgtuOT1GARbrkUv-0wGtnLiBXoq8xnr-lfa2OLSj_d9ECQEhbaCtf3mMY4XlupTFhyQ6WdrMVJMlwokcWOlvx9qwz0miJmcjrNyLUz2Ftcml1x0BqSGVc7JlpvF-9LBNkgOLWr4I19t33R1/s1600/robert+imbas.jpg

Dikisahkan suatu ketika seorang perempuan merasai kesakitan atas kondisi yang dialaminya. Membawa anak nan masih kecil di sebuah kapal yang akan menuju Negeri Kincir Angin. Tak kuasa menahan sakit dan derita, segeralah disampaikan suatu amanah pada dua orang di sampingnya. Dititipkanlah anak kecil tersebut beserta sebuah surat yang mengiringi. Disanggupilah permintaan tersebut dan tiada lama sang perempuan menutup mata untuk selamanya.
Robert. Begitulah nama anak kecil yang diasuh oleh sebuah keluarga dengan sang ayah bernama van Reijn. Sang ayah amatlah menyayangi Robert dan memperlakukannya seperti anak kandungnya sendiri walau terlihat bahwa tiada garis kemiripan terukir di sudut wajah sang anak yang berkulit kecokelatan tersebut.
Robert kecil kian tumbuh menjadi seorang pemuda nan gagah. Suatu hari, sang ayah yang kurang sehat menyuruhnya untuk menghadiri undangan ke rumah Tuan van Starenwijck. Sebelum pergi, sang ayah menasihati Robert untuk memperbaiki perilakunya dan bergaul dengan baik terhadap keluarga van Starenwijck. Robert memiliki seorang kekasih bernama Digna yang tiada lain merupakan anak tiri dari Tuan van Starenwijck. Keduanya saling mencintai walau Digna sering dikecewakan oleh tingkah Robert yang negatif, seperti mabuk, berkelahi, dan judi. Robert diasuh oleh keluarga kaya yang mampu memberikannya apapun sehingga Robert mampu membelanjakan uangnya dengan apapun, termasuk mentraktir “minum” teman-temannya.
Sesampainya di rumah, Robert dikagetkan dengan kabar meninggalnya sang ayah. Seketika itu menangislah ia karena orang yang begitu dicintainya kini telah tiada. Ibunyapun juga telah lama tiada. Kini, tinggal Robert sendiri dengan segudang penyesalan yang belumlah sempat membanggakan sang ayah. Robert bingung untuk mengatur harta peninggalan sang ayah, tetapi di sisi lain banyak orang yang meragukan bahwa ia adalah anak van Reijn, terlebih pamannya yang bernama Gerard van Reijn. Robert ingin memberitahukan berita dukanya pada kekasihnya, tetapi karena suatu hal tiadalah tersampaikan.
Robert terdiam sejenak di meja sang ayah dan mencari suatu tanda yang sekiranya ditinggalkan. Tidak berselang lama, Robert menemukan surat bertuliskan boleh dibuka ketika berumur 21 tahun. Kurang tiga bulan lagi, Robert bisa membukanya. Tiba-tiba sang paman muncul dan berbicara tidak sopan padanya. Sang paman memberitahukan bahwa Robert bukan anak van Reijn. Ia menemukan secarik kertas yang ditulis van Reijn di atas mejanya. Segera diusirlah Robert dari rumahnya, walau sebenarnya terdapat kata yang belum berakhir di akhir surat tersebut.
Dibacalah surat yang ditemukan Robert boleh dibaca ketika berumur 21 tahun. Betapa sedih dan terpukulnya hati Robert tatkala mengetahui bahwa ibunya bernama Suzane yang telah pergi untuk selama-lamanya sejak ia masih kecil. Selain terpukul, Robert merasakan kebencian yang luar biasa terhadap ayahnya yang telah meninggalkan ibunya. Robert adalah anak yang dilahirkan oleh ibu berkebangsaan Belanda bernama Suzane dan ayah yang berkebangsaan Indonesia bernama Surapati.
Selanjutnya, Robert terkatung-katung tidak jelas hingga berada di Indonesia. Robert menjadi liar dan suatu waktu ditemukan oleh keluarga Voorneman. Tidak lain tidak bukan, isteri dari Tuan Voorneman adalah Digna Tack, kekasih Robert. Ketika mata kedua orang tersebut bertatapan, nyatalah bahwa masing-masing telah saling mengenal.
Rangkaian keadaan terus bergulir, hingga Robert berada di posisi penting yang dapat mengunggulkan Belanda karena warna matanya yang hitam dan kulitnya yang berwarna. Robert mendapat tugas sebagai mata-mata untuk mencari keberadaan Untung Surapati dan membunuhnya. Sebelumnya, Digna berpesan bahwa Digna ingin Robert membunuh Surapati karena dulunya, ayahnya meninggal ketika melawan Surapati.
Robert yang menjadi mata-mata ternyata tertangkap. Dibawalah Robert menuju Surapati untuk diberikan hukuman. Bertemulah Robert dengan Surapati. Dari pertemuan keduanya, didapatilah sebuah fakta yang mengungkapkan bahwa ia adalah anak Surapati, terketahui dari sebuah surat, cincin, dan sekeping uang perak yang tinggal setengahnya. Nyatalah bahwa Robert adalah anaknya. Surapatipun tidak akan sanggup untuk menghukum anaknya tersebut. Akhirnya, ia diberi sebuah pilihan yang salah satunya adalah memihak sang ayah dan meneruskan perjuangan sang ayah untuk menjadi raja dan memimpin pasukan.
Berkecamuklah hati Robert. Di satu sisi, kedudukan yang akan diterimanya amatlah tinggi. Di sisi lain, ia merasa bahwa tanah kelahirannya adalah Belanda karena sejak kecil hingga dewasa, ia dibesarkan di sana. Mantaplah tekad Robert untuk tetap memihak Belanda, tetapi tidak sampai hati untuk membunuh ayahnya. Maka, dilepaskanlah Robert oleh sang ayah.
Setelah Robert keluar dari daerah Pasuruan, ia dihadang oleh penyamun. Saat penyamun akan mengambil barang Robert, Robert mengeluarkan senjata api. Segera sang penyamun berlari dan melaporkan kepada komandan pos bernama Herman de Wilde. Ditangkaplah Robert yang dikira sebagai mata-mata Surapati.
Pada akhirnya, Robert menemui Digna dan menceritakan segala hal tentang Surapati yang tidak lain tidak bukan adalah ayah kandungnya. Robertpun meminta maaf atas nama ayahnya yang telah membuat ayah Digna meninggal. Atas cerita yang didapatinya tersebut, Digna menyadari dan menyudahi dendamnya pada Surapati. Robertpun merasa lega karena ayahnya (Surapati), telah dimaafkan Digna. Tidak lama lagi Robert akan berperang. Digna berkata bahwa ia akan menantikan Robert usai perang yang dianggapnya sebagai penyucian Robert dari segala noda yang dilekatkan orang padanya. Namun, apabila gugur, Digna mengatakan bahwa Robert akan menantikan pulangnya Digna dari dunia yang fana ini.
Di sebuah meja makan, Digna berbincang-bincang dengan keluarga van Hoorn. Saat itu yang diperbincangkan adalah Walter, nama samaran Robert sebagai mata-mata Belanda. Bertanyalah Digna terhadap pamannya, van Hoorn, terkait hal yang sudah terjadi pada Walter. Sang paman berkata bahwa orang yang dihina khalayak orang tersebut sejatinya adalah pahlawan tanah air yang mahal tandingannya. Ia gugur bersama lima puluh orang kawannya sebagai pahlawan dengan mengorbankan nyawanya. Terperanjatlah hati Digna. Pamannya berkata bahwa banyak ketidakadilan terjadi di sekitar kita yang tiada bisa membedakan seseorang yang seharusnya ditempatkan pada posisinya. Dalam keadaan berkabung tersebut, pulanglah Digna kembali menuju tanah kelahirannya.

Referensi
Moeis, Abdoel. 2000 (Cetakan ke sepuluh). Robert Anak Surapati. Jakarta Timur: Balai Pustaka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Novel "Punakawan Menggugat"

  Resensi ini terdiri dari empat bagian berupa orientasi, tafsiran, evaluasi dan rangkuman. Orientasi Judul                : Punakawan Menggugat Penulis              : Ardian Kresna Penerbit            : DIVA Press Tebal Buku       : 366 halaman Tahun terbit      : 2012 Ulasan ini membahas tentang hakikat seorang pemimpin yang dituangkan ke dalam kisah para tokoh Pandhawa dan Kurawa. Para pemimpin terlena pada kemegahan dunia sehingga melalaikan tugas terhadap rakyatnya. Empat punakawan/abdi (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) turut mewarnai setiap tindakan para tokoh dan tiga dari mereka menginginkan kedudukan. Disertai kisah cinta yang mengharukan, terbalut rapi dalam novel berjudul “Punakawan Menggugat”.  Tafsiran  ...

Rangkuman Novel "Relung-relung Gelap Hati Sisi"

Sekilas, dapat ditarik bahwa dari judul yang dihadirkan akan ditemui karakter berbeda dalam diri seseorang. Setiap orang memiliki rahasia di balik karakter yang terlihat. Salah satu ketertarikan saya memilih novel tersebut sebagai bacaan karena tidak sengaja menonton televisi dengan tayangan sosok inspiratif yang berprofesi sebagai dokter, tetapi memiliki segudang karya kepenulisan cerita fiksi, yaitu novel. Beliau adalah Mira W. Novel berjudul Relung-relung Gelap Hati Sisi yang saya baca ini diterbitkan pada tahun 2009 dengan 275 halaman yang saya beli di Pasar Buku Wilis, Malang pada bulan-bulan akhir di tahun 2015. Saya menemukan buku catatan saya yang berisi rangkaian ringkasan buku dan rasanya sayang jika tidak diabadikan di blog saya. Setiap karangan memiliki nyawa, menimbulkan emosi, rasa penasaran beserta jawabannya. Inilah sekilas rangkuman novel karya Mira W. dengan judul Relung-relung Gelap Hati Sisi.             Seorang ...