Sekilas, dapat ditarik bahwa dari judul yang dihadirkan akan ditemui karakter berbeda dalam diri seseorang. Setiap orang memiliki rahasia di balik karakter yang terlihat. Salah satu ketertarikan saya memilih novel tersebut sebagai bacaan karena tidak sengaja menonton televisi dengan tayangan sosok inspiratif yang berprofesi sebagai dokter, tetapi memiliki segudang karya kepenulisan cerita fiksi, yaitu novel. Beliau adalah Mira W. Novel berjudul Relung-relung Gelap Hati Sisi yang saya baca ini diterbitkan pada tahun 2009 dengan 275 halaman yang saya beli di Pasar Buku Wilis, Malang pada bulan-bulan akhir di tahun 2015. Saya menemukan buku catatan saya yang berisi rangkaian ringkasan buku dan rasanya sayang jika tidak diabadikan di blog saya. Setiap karangan memiliki nyawa, menimbulkan emosi, rasa penasaran beserta jawabannya. Inilah sekilas rangkuman novel karya Mira W. dengan judul Relung-relung Gelap Hati Sisi. Seorang ...
Resensi ini terdiri dari empat bagian
berupa orientasi, tafsiran, evaluasi dan rangkuman.
Orientasi
Judul :
Punakawan Menggugat
Penulis :
Ardian Kresna
Penerbit :
DIVA Press
Tebal Buku : 366 halaman
Tahun terbit : 2012
Ulasan ini membahas
tentang hakikat seorang pemimpin yang dituangkan ke dalam kisah para tokoh
Pandhawa dan Kurawa. Para pemimpin terlena pada kemegahan dunia sehingga
melalaikan tugas terhadap rakyatnya. Empat punakawan/abdi (Semar, Gareng,
Petruk, Bagong) turut mewarnai setiap tindakan para tokoh dan tiga dari mereka
menginginkan kedudukan. Disertai kisah cinta yang mengharukan, terbalut rapi
dalam novel berjudul “Punakawan Menggugat”.
Tafsiran
Pada
novel ini saya ingin menyoroti bagian unsur intrinsik berupa gaya penulisan,
khususnya majas. Majas personifikasi dan simile begitu mendominasi di seluruh
bagian novel. Penulis dengan baik merangkai paragraf dengan memaparkan
kondisi/situasi peristiwa secara memukau dengan detailnya. Majas personifikasi
merajai penggambaran tentang keadaan suatu tempat dan perilaku binatang,
sedangkan majas simile merajai gambaran tokoh. Beberapa majas tersebut adalah
sebagai berikut.
- · Majas Personifikasi
Di
angkasa, sekawanan burung kuntul memamerkan
kilau putih bulunya...
...ribuan
burung walet yang sedang berpesta
menyantap serangga...
...bersama
mega-mega yang menunggu kedatangannya
dengan penuh kesabaran.
...hawa
panas terangkum dalam pelukan lembut
tabir tipis pembatas langit...
Suasana
pagi yang muram dengan mentari yang malas menyorotkan sinarnya...
- · Majas Simile
Kini,
Bagong tampak bercahaya bagaikan dewa
dari kahyangan...
Wajahnya
sungguh rupawan seperti wanita ayu
saja layaknya.
...satria
raksasa bagaikan gunung kembar
berjalan memanggul gada...
Wajahnya
bagaikan kelapa gading yang masih
muda.
...tampaklah
kilatan gigi yang rapi dan bagaikan biji
mentimun itu.
Evaluasi
Keunggulan
yang terdapat dalam novel ini adalah bahasa yang menarik berupa rangkaian majas
yang menyelimuti hampir di seluruh paragraf. Selain itu, cerita mudah dipahami.
Bahasa yang digunakanpun mampu membuat akrab pembaca, khususnya pembaca asli
Jawa. Unsur budaya begitu kental mewarnai. Ditambah pula dengan sampul buku
yang mampu mewakili atau memberikan gambaran cerita. Nyaris tidak ditemui
kelemahannya, hanya ada beberapa ketikan kata saja yang kurang tepat dalam penulisannya.
Rangkuman
Seorang
pemuda yang gagah dan berwajah rupawan bernama Abimanyu, sedang dirundung duka
perihal cintanya kepada Dewi Lesmanawati yang tiada direstui. Abimanyu dari
Pandhawa sedangkan Dewi Lesmanawati dari Kurawa. Berangkatlah Abimanyu menemui
punakawan/abdi yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong untuk
memberikan jalan keluarnya, terlebih lagi di kerajaannya bernama Amarta juga
sedang terjadi masalah atas pembangunan Candi Saptaarga yang menyedot perhatian
para Pandhawa hingga melupakan nasib rakyatnya.
Berkatalah
Semar, sebagai orang tertua dari Punakawan yang dipanggil “Bapak”, untuk
menasihati Abimanyu dan menyuruhnya bertapa di Danau Tirtaranu dengan menjelma
sebagai ikan Nila bersisik emas. Berangkatlah Abimanyu dan memulai pertapannya.
Di
sisi lain, Dewi Lesmanawati semakin terpuruk keadaannya dengan kesedihan tiada
habisnya memikirkan nasib cintanya. Dalam mimpinya ia bertemu dengan ikan nila
emas yang akan mengobati kesedihannya. Sayembarapun diadakan oleh ayah sang
Dewi bernama Prabu Duryudana untuk menemukan ikan nila emas tersebut.
Seluruh
prajurit dan rakyat dari segala penjurupun ikut memeriahkan sayembara tersebut,
tak terkecuali para raksasa. Prabu Jayalodra, seorang raksasa sakti mandraguna berwatak
bengis dari negara Parang Gumiwang turut pula mengikuti sayembara.
Perebutan
ikan nila bersisik emas bernama Nilasari tersebut berlangsung menegangkan.
Bagong telah diutus oleh Semar mengambil Nilasari dan segera menuju Danau
Tirtaranu. Setelah melakukan pertapaan, akhirnya Nilasari atau Raden Abimanyu
berhasil ditangkap. Di tengah perjalanan pulang, Bagong dihentikan oleh para
utusan Kurawa karena barang yang digendongnya memunculkan sinar yang begitu
terang. Bagongpun dikejar-kejar karena tiada mau menyerahkan barang yang
dibawanya tersebut hingga bertemu dengan para raksasa dari Parang Gumiwang.
Akal cerdik Bagongpun muncul dan berkata pada raksasa bahwa gerombolan prajurit
Kurawa tersebut mengejar Bagong untuk mendapatkan kesaksian letak Danau
Tirtaranu. Jika sang raksasa mampu mengalahkan mereka, Bagong dengan senang
hati memberitahu letak tempat yang dicari kepada para raksasa.
Pertempuran
sengit antara raksasa dan orang-orang Kurawa berlangsung seru karena kuatnya
kedua belah pihak. Para raksasa yang terus digempur merasa kewalahan dan
memilih kembali menuju Parang Gumiwang.
Diangkatlah
Bagong sebagai Adipati dengan nama Jaya Pethakol oleh Prabu Duryudana karena
telah memenangkan sayembara. Sang Dewipun merasa gembira karena barang yang
diidamkannya telah dapat dipeluknya. Kini semakin dekatlah Abimanyu dengan
kekasihnya. Di sisi lain, Bagong yang diberikan jabatan tinggi dengan segala
kemewahan yang diberikan menjadi lupa diri.
Dari
tempat yang cukup jauh bernama Padepokan Glagaharum, terdapat seorang pemuda
yang sedang dirundung duka karena tiada pernah melihat sang ayah hingga dewasa.
Prabakusuma menanyakan pada ibunya dan oleh ibunya diserahkan kepada eyangnya
untuk menjawabnya. Sang eyang akhirnya memberitahukan nama ayah Prabakusuma
adalah Arjuna, anak ketiga Pandhawa dari Amarta. Berangkatlah sang anak meminta
restu untuk menemui sang ayah.
Di
sebelah timur Jawadwipa, terdapat sebuah negara bernama Imantaka yang dihuni
oleh para raksasa beringas dengan rajanya bernama Prabu Bumiloka. Ia geram dan
ingin menuntut balasa atas kematian ayahnya di tangan Arjuna. Segeralah para
rombongan menuntut balas dengan siasat jahatnya. Tugas terbagi menjadi dua.
Salah satu rombongan berupaya menggagalkan pembangunan Candi Saptaarga milik
Pandhawa dengan bantuan makhluk tak kasat mata, sedangkan yang lain yaitu adiknya
Prabu Bumiloka yang bernama Dewi Mustakaweni yang walaupun dari keturunan
raksasa ia memiliki paras yang begitu menarik hati yang dilahirkan laksana
bidadari khayangan. Ia bertugas untuk menjelma sebagai Gatutkaca (salah satu
cucu Pandhawa) untuk mengambil salah satu pusaka Pandhawa bernama Jamus
Kalimasada.
Salah
seorang Pandhawa yang terkenal paling rupawan bernama Arjuna sedang dilanda
kedukaan, ia merindukan anaknya bernama Abimanyu yang hingga kini tiada
kabar. Segeralah ia berangkat menemui
punakawan dan menanyakannya kepada Semar. Semar berpikir sejenak agar Arjuna
bisa berubah lebih baik dan menyarankannya untuk mencari ikan Nilasari untuk
diberikan kepada anaknya Abimanyu supaya anaknya tersebut bisa bertemu kembali
dengan Dewi Lesmanawati. Berangkatlah Arjuna yang ditemani oleh Gareng untuk
menangkap Nilasari.
Setiap
jala yang diceburkan ke sungai tiada beroleh ikan yang dicari. Berkali-kali
tetap gagal, hingga kemarahan Arjuna memuncak, di waktu terakhir kesabarannya,
ia lemparkan jaring keras-keras hingga tak sengaja mengenai batu besar di dasar
sungai dan robeklah jaringnya. Melihat hal demikian, Gareng segera membantu
menariknya dan menyelamatkan jaring Arjuna, tetapi jaring tetap saja robek.
Marahlah Arjuna dan melemparkan Gareng ke tengah sungai dengan sadis. Hilanglah
Gareng terseret derasnya air. Dicari dan dicari oleh Arjuna, Gareng tiada
ditemukan. Menyesallah Arjuna.
Dari kejuhan nampaklah
rombongan Prabu Kresna dari negara Dwarawati menuju negara Amarta. Di tengah
perjalanan sang Prabu menemukan sseeorang yang terseret air dan ditolonglah ia,
ternyata ia adalah Gareng. Kemudian atas bantuan Prabu Kresna, berubahlah Gareng menjadi gagah dan menggunakan namanya menjadi
Pandu Pragola. Di tengah perjalanan tiba-tiba mereka bertemu dengan rombongan
raksasa tinggi besar dari kerajaan Parang Gumiwang yang membuat kerusakan di
jalan yang mereka lewati. Niat mereka menuju Amarta untuk menemui Dewi
Lesmanawati yang telah diidam-idamkan oleh sang raja. Segera, pasukan Prabu
Kresna menghalanginya dan terjadilah baku hantam, hingga para pemimpin telah
beradu. Pandu Pragola berhadapan dengan Prabu Jayalodra dan memenangkannya.
Akhirnya, Pandu Pragola menjadi raja baru Parang Gumiwang.
Keberhasilan
pertama yang dilakukan oleh pasukan Imantaka untuk menggagalkan pembangunan
candi membuat para Padhawa, khususnya Prabu Yudhistira yang merasa sangat
sedih. Segeralah ia menemui pamannya bernama Prabu Kresna untuk menyelesaikan
masalahnya. Di sisi lain, Dewi Mustakaweni berhasil mencuri pusaka bernama
Jamus Kalimasada tetapi diketahui istri Arjuna dan segeralah ia mengejarnya.
Pertempuran
antara kedua perempuan yang sama-sama jago memanah tiada kunjung selesai karena
sama-sama kuat, hingga pada pukulan terakhir saat istri Arjuna bernama Dewi Wara
Srikandi telah tersungkur, pada saat yang tepat Dewi Mustakaweni menarik kudanya
sejauh-jauhnya. Menangislah Dewi Wara Srikandi di tengah hutan sendirian karena
tak bisa mengambil kembali Jamus Kalimasada, pusaka kerajaannya.
Di
tengah perjalanan, Prabakusuma dan Petruk bertemu dengan Dewi Wara Srikandi dan
terjadilah percakapan. Akhirnya, dengan direstui oleh sang Dewi, berangkatlah
Prabakusuma untuk mengambil kembali Jamus Kalimasada untuk diserahkan kepada
pemiliknya. Bertemulah ia dengan Dewi Mustakaweni dan terjadilah
serang-menyerang yang dimenangkan oleh Prabakusuma. Namun, Prabakusuma
mengampuni Dewi Mustakweni dan telah jatuh cinta padanya. Lalu Prabakusuma menyerahkan
Jamus Kalimasada kepada Petruk dan berkata agar segera mengembalikannya.
Petruk
memegang Jamus Kalimasada dan membawanya pergi. Petrukpun memanfaatkan situasi,
dengan Jamus Kalimasada, berubahlah ia menjadi kesatria tampan dan mengganti
namanya menjadi Bledug Pawana. Ia memanfaatkan kesempatan kembali dengan
menghadang pasukan Imantaka yang akan berangkat ke Amarta untuk membalas dendam
kepada Arjuna. Bledug Pawana dengan sigap dan lincah membabat habis para
pasukan yang berani melawannya tidak terkecuali sang raja bernama Prabu
Bumiloka. Akhirnya kemenangan berada di pihak Bledug Pawana dan raja baru
Imantaka telah beralih padanya. Selanjutnya, Bledug Pawana menggiring
rombongannya menuju Astina untuk menguasainya serta mengambil Dewi Lesmanawati.
Di
sepanjang perjalanan menuju Amarta, Prabu Kresna bertemu dengan rombongan Prabu
Yudhistira dan bersama-sama menuju Amarta. Di tengah perjalanan, keduanya
bercakap dan Prabu Kresna memberitahu bahwa pada pembangunan Candi Saptaarga
tersebut terdapat makhluk gaib yang mengganggu pembangunannya. Maka tahulah
Prabu Yudhistira akan penyebab Candi yang dibangunnya tak kunjung selesai.
Lalu, berangkatlah Prabu Kresna dan Prabu Yudhistira menuju Gunung Parasu untuk
menemui Resi Purnama agar meredam huru-hara yang terjadi di negara Amarta.
Sesampainya
di Amarta, terjadi pula peperangan yang sengit antara pasukan dari Parang
Gumiwang yang dipimpin oleh Pandu Pragola melawan pasukan Amarta hingga yang
dicari-cari akhirnya keluar, yakni Arjuna. Pandu Pragola membabi buta menyerang
Arjuna dan dengan tangkas pula Arjuna menghadapinya. Dari kejauhan Resi Purnama
berteriak keras agar peperangan tersebut diakhiri. Kini, Resi Purnama telah
berhadapan dengan Pandu Pragola yang dengan sekali tendang bisa menjatuhkannya
berguling-guling hingga ajian terakhir yang dikeluarkannya adalah “Buuuusss...”
atau kentut tersebut keluar. Berubahlah Pandu Pragola ke dalam wujud aslinya,
yakni Gareng. Ia mengaku melakukan semua itu karena dendamnya pada Arjuna yang
telah membuangnya dengan hina ke sungai waktu itu. Selanjutnya sang Resi menuju
Astina untuk meredam peperangan yang juga terjadi di sana.
Di
dalam Astina, terjadilah peperangan antara Kerajaan Imantaka yang dipimpin oleh
Bledug Pawana dengan para Kurawa. Para petinggi negarapun memiliki siasat untuk
menjerumuskan Adipati Jaya Pethakol atau yang disebut dengan Bagong, untuk
dijadikan tumbal melawan keganasan Bledug Pawana. Setiap kali Adipati Jaya
Pethakol mendekat dan menyerang Bledug Pawana, secepat pula Bledug Pawana
menghindarinya, begitu seterusnya hingga para petinggi Kurawa heran dibuatnya.
Akhirnya datanglah Resi
Purnama dan segera berhadapan dengan Bledug Pawana dengan memberikan ajiannya
kembali “Buuuuusss...” seketika itu pula berubahlah Bledug Pawana menjadi
Petruk. Itulah alasan Petruk tidak mau menyerang saudaranya bernama Bagong.
Kemudian ia mengaku bahwa dirinya melakukan semua itu sebagai pelampiasan atas
sikap bendoro/majikan/petinggi negara yang selalu meremehkan kawula alit atau
masyarakat bawah. Resi Purnama pun akhirnya mengubah wujudnya yang semula
menjadi Semar.
Usailah
sudah segala huru-hara yang terjadi di tanah marcapada tersebut. Semar
mewejangi seluruh Pandhawa dan Kurawa serta seluruh kawula tentang hakikat menjadi seorang pemimpin.

Komentar
Posting Komentar