Secepat jatuhnya buah dari pohon, jari-jemari ini membuka layar ponsel untuk memesan buku yang dimaksud. Pada saat hendak membayar, tidak ada jenis pembayaran yang dimiliki pencari buku, dan diputuskanlah untuk membelinya secara langsung keesokan harinya.
Melewati jalanan yang ramai kendaraan, menikmati singkat bunga bermekaran di bundaran depan gedung balaikota, menuju bundaran alun-alun, memutar mengikuti arah hingga sampailah di toko buku. Menapaki anak tangga, menaiki eskalator, dan sampailah pada ribuan buku tertata rapi di antara rak-rak yang berhadapan dan berlawanan serta tumpukan rapi di meja dengan masing-masing tempat bertuliskan kata kunci terkait buku yang seragam.
Sampul berlatar merah berhias kata stop overthinking memenuhi dan membentuk gambar kepala yang tampak dari arah samping. Adalah kiranya diri ini telah berniat untuk memilikinya, segera saja uang telah diterima kasir, lalu buku masuk ke dalam tas. Sebelum kubuka lapisan bening yang menyelimutinya, kuabadikanlah menggunakan layar ponsel, dan beginilah potretnya.
Buku setebal satu sentimeter, berukuran 19x13 sentimeter, ditulis oleh Nick Trenton, dialihbahasakan oleh Muhammad Fahmi Lubis, disunting oleh Marina Ariyani, dan didesain oleh Triya Dewi, dengan cetakan ketiga pada September 2023, telah ada di genggaman di penghujung bulan pertama tahun 2024.
Buku yang diterbitkan oleh penerbit Bhuana Ilmu Populer atau disingkat BIP yang termasuk kelompok Gramedia, menyajikan enam bab yang mengulas ihwal overthinking. Setelah kulit bening yang membungkus buku terlepas dengan hati-hati, lembar demi lembar buku dibuka secara perlahan, dan saatnya menyantap bagian pertama berjudul Overthinking Bukan Hanya Tentang Berpikir Berlebihan.
Diberikan sebuah cerita, ditunjukkan gambaran penelitian terkait penyebab dan konsekuensi, ditariklah kemudian oleh saya sebuah definisi, overthinking adalah keadaan ketika pikiran dipenuhi dengan penilaian negatif tentang diri yang dilakukan terus-menerus hingga mencederai mental dan fisik. Dalam pandangan penulis buku, salah satu kutipan yang saya sukai adalah,
Hakikat dari overthinking terletak pada ungkapannya--ketika berpikir melebihi, melompati, dan melampaui apa yang bermanfaat untuk kita.
Di bagian kedua, pembaca disuguhkan judul Formula untuk Meredakan Stress dan Hal-hal Terkait. Terdapat beberapa formula yang dapat diterapkan untuk mengobati overthingking, salah satunya menggunakan teknik 4A, yang meliputi avoid (hindari), alter (ubah), accept (terima), dan adapt (adaptasi). Menghindari dimaknai dengan menjauhkan diri dari orang atau keadaan yang tidak dapat dikendalikan. Mengubah dimaknai dengan mengondisikan keadaan tidak menyenangkan. Menerima dimaknai dengan mengakui emosi yang ada. Beradaptasi dimaknai dengan mengelola pikiran dan tindakan.
Ada beragam teknik yang dapat dipilih untuk menangani overthinking. Teknik 5-4-3-2-1 juga menarik karena mengarahkan fokus diri terhadap kelima indra. Satu kutipan di antara kutipan menarik di bagian kedua, yaitu
Saat indra Anda aktif, otak akan terlibat dengan hal di luar ruminasi tak berujung dan overthinking pun menjadi terhambat.
Di bagian ketiga, pembaca akan diajak mengelompokkan kepribadian diri dengan solusi tepat yang saling bertaut. Salah satu contoh kelompok di antara perbedaan unik latar belakang kepribadian, yakni time martyr, orang yang menerima permintaan semua orang serta memikul kewajiban dan tanggung jawab yang terlalu banyak--mereka menderita karenanya.
Tiga dari enam bab yang disuguhkan telah membuka mata dan pandangan bagi pembaca dalam memahami keadaan overthinking yang menggerogoti diri beserta macam penanganannya. Untuk bab-bab selanjutnya, ketidaksabaran sudah memenuhi rongga kerongkongan diri karena hausnya menyelesaikan ihwal overthinking yang segera ingin dipecahkan setuntas-tuntasnya dan ditendang jauh-jauh dari pikiran.

Komentar
Posting Komentar