Perselingkuhan Mengumpankan Sahabat dalam Novel karya Mira W. berjudul Arini Masih Ada Kereta yang Lewat
Akhir-akhir ini tema perselingkuhan menjadi tema yang sedang naik daun di kalangan masyarakat. Baik kisah nyata maupun kisah fiksi yang dijadikan dalam drama pertelevisian. Hal ini menunjukkan betapa seorang manusia memiliki sisi yang egois dan serakah, tamak akan kehidupan duniawi dan menjebol benteng imannya sendiri demi kepuasan yang tidak abadi. Berbicara mengenai tema tersebut, saya tidak sengaja mencari bacaan dari penulis sekaligus seorang dokter bernama Mira W. Karya pertamanya yang saya baca adalah Relung-relung Gelap Hati Sisi, yang tiada sengaja kutemukan di Toko Buku Wilis seusai menonton tayangan televisi yang mengabarkan karir kepenulisan Mira W. Betapa banyak karya yang dihasilkannya di tengah kesibukannya menjadi dokter. Apabila dibandingkan dengan saya yang lulusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia tiada apa-apanya. Saya senang dapat terinspirasi oleh tokoh-tokoh penulis di luar bidang profesinya yang mampu menelurkan idenya ke dalam buku agar dapat terus hidup dalam dunia yang terus bergerak ini. Saya memang belum sekalipun menelurkan karya dalam bentuk novel, tetapi saya masih bisa menyemangati diri saya untuk menulis dengan belajar dari novel-novel yang saya baca untuk saya ringkas dan membaginya pada blog saya. Kegiatan seperti ini cukup membuat hati saya gembira dan saya pun berharap kepada para pembaca blog saya juga turut mendapat sebuah makna dari ringkasan tulisan hasil bacaan saya yang sederhana ini.
Dikisahkan seorang wanita bernama Ira yang mendatangi sahabatnya bernama Arini untuk dikenalkan kepada seorang lelaki bernama Helmi. Arini, seorang perempuan yang berusia dua puluh lima tahun dengan karakter lugu dan polos menyetujui permintaan sahabatnya untuk berkenalan dengan lelaki tersebut. Penampilan Arini dipoles dengan gaya Ira yang sosialita untuk menarik perhatian lelaki tersebut. Beberapa bulan kemudian Helmi menikahi Arini atas desakan Ira.
Ira tidak ingin berpisah dengan anak-anaknya jika ia sampai diceraikan suaminya sehingga ia mengorbankan sahabatnya untuk menutupi perselingkuhannya dengan Helmi. Ira memiliki tiga orang anak dari pengusaha yang satu di antaranya, yakni anak terakhirnya bernama Marga adalah hasil hubungannya dengan Helmi. Saat itu, suami Ira tak sengaja membaca pesan Helmi pada HP-nya dan mencurigai Ira. Ira spontan mengatakan bahwa pesan Helmi tersebut ditujukan kepada sahabatnya melalui perantara Ira. Untuk meyakinkan suaminya, Ira harus membawa Helmi dan Arini ke rumahnya sebagai bukti kedekatan mereka.
Suatu hari, Ira mendapatkan suaminya marah besar karena ia pulang larut malam dengan bau alkohol apalagi pulang dengan diantar oleh Helmi. Ira pun tidak kehabisan akal, untuk mengelabuhi suaminya, ia bercerita bahwa kegiatannya tersebut untuk merayakan kesuksesan Helmi melamar Arini.
Arini yang selalu merasa minder akan fisik dan penampilannya tidak percaya akan dinikahi lelaki tampan bernama Helmi. Merekapun menikah. Dalam benak Helmi, ia merasa bersalah telah menikahi perempuan lugu dan polos demi menutupi aibnya bersama Ira, di sisi lain ia tidak tega melihat Ira menangis jika permintaan tersebut tidak dipenuhi. Ira yang lega karena suaminya tidak mencurigainya di sisi lain merasakan kecemburuan yang luar biasa.
Arini dan Helmi mendapat kado dari suami Ira berupa dua tiket ke Paris. Di Paris mereka menikmati suasana keromantisan kota dan suguhan pertunjukan ketika makan malam. Saat malam menjelang, Helmi melakukan hubungan badan dengan Arini yang dibayangkannya sebagai Ira.
Arini sangat bahagia mendapati dirinya hamil. Di ujung usia kehamilannya ia mendapati perselingkuhan yang terjadi antara Helmi dan Ira dan dirinya yang dijadikan mangsa untuk menutupi aib keduanya. Dalam perjuangannya melahirkan bayi, hatinya begitu sakit hingga tidak menginginkan bayi tersebut lahir. Helmi yang menemani dan melihat perjuangan Arini memiliki iktikad untuk membangun rumah tangga yang damai dengan Arini dan calon anaknya.
Arini mengidap penyakit pasca melahirkan berupa tidak mau mendekati buah hatinya. Ia pun merasa menjadi wanita bodoh yang terperangkap dalam muslihat sahabatnya. Demi kebahagiaan putrinya, Ibu Arini memberitahu Arini bahwa bayinya telah meninggal. Setelah cerai dari suaminya dan berselang beberapa bulan ibunya meninggal, Arini menjadi seorang yang berbeda. Ia menjadi hilang kepercayaan dengan persahabatan dan lelaki. Ia memilih fokus berkarir untuk mengenyahkan kesakitan hatinya.
Di sebuah gerbong kereta, seorang pemuda menghampiri Arini dan meminta tolong padanya agar ia bisa melewati kondektur karena tidak memiliki tiket. Arini yang risih dengan kehadiran pemuda tersebut segera ingin memisahkan diri darinya. Akan tetapi, ketika pemberhentian kereta, pemuda tersebut meminta alamat rumah Arini untuk mengucapkan pesan terima kasih. Tidak disangka di balik percakapan berupa debat di antara keduanya adalah sebuah pertemuan yang akan menghubungkan mereka dengan pertemuan selanjutnya.
Pemuda yang berusia lima belas tahun lebih muda dari Arini yang berusia hampir empat puluh tahun, terus mengejar Arini sedemikian rupa dan meyakinkan Arini bahwa umur bukanlah hambatan untuk keduanya bersatu. Pemuda tersebut bertingkah sesuka hatinya dan mengatakan perkataan yang membuat Arini merenungi perkataan benar pemuda tersebut. Singkat cerita muncullah benih-benih cinta di antara keduanya.
Arini pulang ke Jakarta setelah menyelesaikan urusannya di Jerman dengan pengalaman bertemu pemuda yang menggetarkan hatinya. Sesampainya di Jakarta, Arini menempati posisi tinggi sebagai CEO perusahaan farmasi. Di tengah kekosongan jabatannya ketika berada di Jerman, ia digantikan oleh lelaki yang tidak lain adalah mantan suaminya. Betapa geram hati Arini bertemu kembali dengan mantannya. Ia menjadikan posisinya sebagai ladang untuk memperlakukan mantan suaminya dengan kemarahan luar biasa di setiap pekerjaannya yang tidak beres.
Ella, anak dari pernikahan Helmi dan Arini mengidap penyakit gagal ginjal yang segera memerlukan pendonor agar tetap hidup. Tidak ada pilihan lain bagi Helmi untuk meminta tolong Arini karena ginjal yang dimilikinya hanya satu.
Arini kaget mendengar cerita Helmi bahwa anak perempuannya masih hidup. Ia bersedia untuk mendonorkan ginjalnya untuk anaknya. Di tengah keadaan tersebut, orangtua pemuda lima belas tahun lebih tua darinya bernama Niko atau panggilannya Nick, tidak setuju atas keinginan putranya bersanding dengan Arini karena alasan umur. Saat operasi Arini sedang berlangsung, Nick berada di Jerman untuk membuktikan dan memenuhi permintaan Arini bahwa ia bisa lulus dan mendapat gelarnya yang sebelumnya pernah gagal.
Ira yang kini telah menajadi istri Helmi, melihat Arini berada di rumah sakit membuatnya cemburu dan berpikir bahwa Helmi dan Arini akan bersatu demi Ella. Irapun pulang ke kampung halamannya di Semarang. Ira mengikhlaskan Helmi untuk bersanding dengan Arini, Helmipun bingung.
Sebelumnya, Arini telah meminta beberapa petugas perusahaan untuk menyelidiki Helmi atas penyelewengan keuangan dan terbukti bahwa Helmi telah menilap uang perusahaan sebesar satu miliar. Kebahagiaan Arini untuk mengadili Helmi berganti dengan kesedihan jika anak perempuannya Ella tidak dapat melihat ayahnya. Oleh karena itu, Arini meminta atasannya untuk menghentikan kasus Helmi dengan ia sebagai jaminan.
Arini mendatangi Ira untuk memintanya mengasuh Ella bersama Helmi karena baginya Ella hanya memiliki satu ibu yaitu Ira. Ella selalu mencari mamanya, Ira. Ira begitu menyesal atas kesalahan yang dilakukannya terhadap sahabatnya. Arini memaafkan sahabatnya dengan permintaan untuk Ira menyayangi Ella seperti anaknya sendiri. Ira pun berangkat menuju Jakarta bersama Arini untuk menjenguk Ella. Saat Ella tertidur, Ira menghampiri dan mengecup keningnya, seketika itu juga Ella bangun dan memanggil mamanya. Ira memeluk Ella diikuti Helmi yang memeluk keduanya. Arini pun pergi ke luar dari rumah sakit dan merasakan kelegaan pada hatinya.
Arini kini telah berada di sebuah taman istana residen di Wurzburg, Jerman. Ia menemui Nick dengan membawakan bunga untuknya seperti yang pernah Nick berikan pada Arini. Mereka kemudian melepaskan kerinduan. Nick mengulurkan sebuah kotak berisi cincin untuk melamar Arini. Betapa merah tersipunya wajah Arini hingga Nick bergegas mengambil kameranya untuk mengabadikan ekspresi Arini. Ketika kameranya telah terpasang dengan benar, ia segera turun dari tangga, tetapi salah satu kakinya terpeleset dan badannya menubruk badan Arini hingga Arini jatuh terduduk persis saat kamera Nick menjepret keduanya.
Referensi
W, Mira. 2018. Arini Masih Ada kereta yang Lewat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Komentar
Posting Komentar