Berkisah mengenai seorang bocah bernama Ajo Kawir yang diajak temannya Si Tokek untuk melihat pemandangan yang membuat jantung lelaki berdesir. Sebelumnya, mereka telah melihat pemandangan tersebut secara sembunyi-sembunyi terhadap kepala desa dan istrinya. Ajo Kawir, bocah polos yang menurut atau patuh saja terhadap ajakan temannya akhirnya melihat pemandangan yang membuatnya mendapat pengalaman buruk luar biasa yang tidak pernah dibayangkannya.
Dua lelaki berpangkat polisi mendatangi rumah Rona Merah yang menurut orang-orang sekitar sudah gila sejak ditinggal mati suaminya, Agus Klobot. Suaminya mati karena diracun. Sejak itu hidupnya menyendiri dan makan dari pemberian orang. Suatu kali Si Tokek mengintip kegiatan Rona Merah di rumahnya yang membuat jantungnya berdesir sehingga perlu mengajak temannya untuk bersama melihatnya. Namun, saat keduanya mengintip, dua orang polisi itu datang. Satu polisi duduk di kursi sambal menyalakan rokok, sedangkan yang lain memaksa Rona Merah untuk mandi. Polisi tersebut menyeret Rona Merah dan memperlakukannya dengan tidak berperikemanusiaan. Polisi memperkosanya. Satu polisi yang mendapati seorang bocah sedang mengintip mereka akhirnya menarik si bocah, menodongkan pistol, dan meminta sang bocah melakukan apa yang baru saja dilihatnya. Akan tetapi, tiba-tiba pada bagian bawah perut sang bocah mengkerut dan kedua polisi menertawainya. Itulah asal mula salah satu bagian tubuh si bocah menjadi seperti itu.
Ajo Kawir dengan segala upayanya mencoba membuat bagian tubuhnya yang dirasa tidak sempurna tersebut agar dapat menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya. Ia mencoba cabai yang dioleskannya pada bagian tersebut yang membuatnya berteriak kesakitan, serta mengambil lebah untuk menyengatnya pada bagian yang dimaksud, tetapi semua usaha Ajo Kawir tidak membuahkan hasil.
Suatu hari ia berbincang dengan sahabatnya Rana. Rana bercerita mengenai seorang Janda Muda yang ditinggal mati suaminya dan harus menghidupi kedua anaknya. Janda Muda ditagih uang pembayaran kontrakan oleh Pak Klebun, tetapi ia masih belum mempunyai uang. Pak Klebun menawarkannya untuk menggratiskan biaya kontrakan asalkan ia mau ditidurinya. Tiada pilihan lain bagi Janda Muda, ia dipaksa melayani lelaki biadab tersebut. Lambat laut kelakuan Pak Klebun semakin menjadi. Ia membawa serta teman-temannya yang kemudian harus juga dilayani oleh Janda Muda. Janda Muda tidak kuat dan ingin melaporkan Pak Klebun kepada polisi. Akan tetapi, Janda Mudalah yang sekarang dijebloskan oleh Pak Klebun ke penjara dengan tuduhan pemfitnahan. Pak Klebun dekat dengan orang atasan dan memiliki banyak anak buah sehingga mudah baginya melakukan semua itu. Ajo Kawir yang mendengar cerita Rana tersebut bangkit dari duduknya dan bergegas untuk membunuh Pak Klebun.
Sebelum menemui Pak Klebun ia dihadang oleh seorang perempuan bernama Iteung. Iteung mengatakan jika Ajo Kawir ingin membunuh Pak Klebun, ia harus terlebih dahulu melewati sang perempaun. Pertarungan pun dimulai. Iteung dengan tangkas menggempur Ajo Kawir, Ajo kawir napak kewalahan, tetapi segera bangkit dan membalas sang perempuan dengan keyakinan dan reflek yang ia miliki. Sang perempuan jago silat sehingga pertempuaran keduanya memakan waktu cukup lama. Mereka kemudian merebah di atara rerumputan dan saling memuji kehebatan masing-masing. Akhirnya, sang perempuan mengizinkan Ajo Kawir untuk menemui Pak Klebun dan memberinya sebuah ramuan di dalam tasnya. Ajo Kawir mengiyakannya dan segera menonjok Pak Klebun. Pak Klebun berteriak memanggil Iteung, tetapi tak ada jawaban. Ajo Kawir memberikan pukulan bertubi-tubi dan mengancam Pak Klebun agar jangan mengganggu Janda Muda. Pada gempuran terakhir, Ajo Kawir memotong sebelah kuping Pak Klebun. Pak Klebun tak sadarkan diri.
Iteung dan Ajo Kawir bertemu kembali dan mereka terlibat dalam percintaan dua sejoli. Mereka saling memberi, tetapi Ajo Kawir kembali teringat bahwa ia tidak bisa memberi sesuatu yang diminta Iteung, dan Ajo Kawir menyuruh Iteung untuk meninggalkannya. Ajo Kawir yang tengah dilanda kegalauan tentang cinta, kemudian dihampiri oleh Pak Gembul. Ia meminta Ajo Kawir membunuh Si Macan. Si Macan terkenal dengan kepiawaiannya berkelahi. Ajo Kawir menyetujui permintaan Pak Gembul untuk mengalihkan perhatiannya pada bayangan Iteung. Ajo Kawir bersama Si Tokek mencari dan terus mencari keberadaan Si Macan tetapi belum juga ditemui. Ajo Kawir dengan lantang berteriak kepada siapa saja yang bertemu dengan Si Macan harap memberitahunya.
Ajo Kawir tidak bisa menahan rasa rindunya dan menemui Iteung. Mereka sama-sama saling mencintai. Ajo Kawir berkata jujur atas kekurangan yang dimilkinya dan Iteung mau menerimanya. Selanjutnya mereka sepakat untuk segera menikah. Sebelum hari pernikahan, Ajo Kawir mendapat ancaman dari seseorang. Ia mengira bahwa itu adalah ancaman dari Si Macan melalui anak buahnya, tetapi ia salah, ancaman tersebut berasal dari Budi Baik, teman seperguruan Iteung. Ajo Kawir dihadang lima orang pemuda dan dihajar hingga babak belur. Iteung yang mengetahuinya segera membuat perhitungan kepada Budi Baik.
Pernikahan pun dilangsungkan. Budi Baik datang di pernikahan keduanya dan mengucapkan selamat. Malam harinya, kedua pengantin melakukan hubungan suami istri tanpa Ajo Kawir memfungsikan bagian bawah perutnya. Tidak lama dari itu, Iteung hamil. Ajo Kawir marah dan menanyakan siapa ayah dari anak yang dikandung Iteung. Iteung tak kuasa menahan tangisnya dan menghentikan Ajo Kawir agar tidak pergi. Ajo Kawir sangat marah karena istrinya telah menghianatinya walau di dalam hatinya masih sangat mencintainya. Ajo Kawir kemudian pergi.
Iteung menangis ditinggal pergi suaminya. Ia mengingat kembali bapak dari anak yang dikandungnya tersebut. Sebelumnya, selama duduk di bangku sekolah, ia mendapat perilaku tidak menyenangkan dari gurunya. Ketika semua murid pulang sekolah, ia adalah satu-satunya murid yang pulang paling akhir. Sang guru yang bernama Pak Toto, selalu memberinya tugas untuk memilah pekerjaan siswanya. Setelah itu, ia akan beraksi meraba tubuh Iteung. Iteung menolak, tetapi tenaga gurunya lebih besar. Hal itu juga terjadi di dalam Ruang Bimbingan. Iteung yang sadar akan tubuhnya yang dipermainkan oleh lelaki akhirnya memutuskan untuk mengikuti bela diri. Iteung belajar dengan keras. Di perguruan bela diri tersebut ia bertemu dengan Budi Baik. Keduanya juga terlibat percintaan. Iteung pernah tidur bersama Budi Baik.
Ketika Iteung cukup dewasa dan telah jago bela diri, ia mendatangi Pak Toto. Ia menghampiri Pak Toto di Ruang Bimbingan di dalam sekolahnya. Pak Toto terkjut melihat kedatangan Iteung. Ia tersenyum ketika Iteung mulai membuka kancing bajunya. Sebelum Pak Toto menyergap Iteung, Iteung sudah mendaratkan tenadangan di bagian bawah perut Pak Toto, menonjok rahangnya dan kemudian Pak Toto pingsan. Iteung memungut semua pakaian yang melekat di tubuh Pak Toto untuk kemudian dilenyapkannya. Tidak lama berselang, Pak Toto bangun dan berjalan sempoyongan keluar dari Ruang Bimbingan. Betapa terkejutnya anak-anak yang sedang berada di luar dan di lapangan. Mereka berteriak histeris, Pak Toto menutupi matanya.
Iteung melewati hari-harinya dengan kegalauan. Ia ingin merasakan sentuhan dan teringat perlaku buruk gurunya. Walau buruk, ia menginginkan sentuhan berbeda tersebut. Ia kemudian datang ke perguruan silatnya untuk mengusir kegalauannya. Akan tetapi, lagi-lagi ia bertemu dengan Budi Baik. Iteung menyandarkan kepalanya pada bahu Budi Baik. Selanjutnya, mereka melakukan hubungan suami istri. Anak yang sedang dikandung Iteung tersebut adalah hasil hubungannya dengan Budi Baik.
Ajo Kawir kini menjadi sopir truk. Setelah sebelumnya ia dipenjara karena telah membunuh Si Macan. Saat itu Si Macan telah kehilangan sebelah kakinya sebelum dibunuh oleh Ajo Kawir. Ajo Kawir membunuhnya dengan mudah. Sekeluarnya Ajo Kawir dari penjara, ia membeli truk dan menjadi sopir truk. Ia juga memutuskan untuk tidak berkelahi lagi dengan menguikuti keadaan bagian tubuh bawahnya yang diam, tenang, dan damai. Ia telah mendapat banyak pelajaran dari hal yang dialaminya tersebut. Seorang bocah bernama Mono Ompong menumpang padanya. Mono Ompong selalu menghindari Si Kumbang karena Si Kumbang suka melakukan hal buruk padanya. Suatu ketika, Mono Ompong berani berkelahi dengan Si Kumbang dan pertarungan dimenangkannya. Mono Ompong sudah merindukan wanita yang diidamkannya, yaitu Nina, yang sebelumnya dianggap baik oleh Mono Ompong ternyata merupakan perempuan tidak baik, tetapi Mono Ompong tetap menginginkannya..
Selanjutnya, Ajo Kawir berada di dalam truk bersama seorang wanita bernama Jelita, ia seorang janda yang menumpang pada truk Ajo Kawir. Jelita mau membayar Ajo Kawir dengan apapun selama Ajo Kawir mebiarkannya menumpang. Jelita bahkan rela memberikan tubuhnya walau selalu ditolak oleh Ajo Kawir. Wajah Jelita tidak cantik, tetapi memiliki tubuh yang cantik. Suatu hari Ajo Kawir bermimpi bahwa bagian bawah perutnya dapat menjalankan fungsinya ketika berhubungan badan dengan Jelita. Tidak lama dari itu, mereka berhenti di pom bensin. Ajo Kawir tergagap melihat Jelita masuk ke kamar mandinya. Mereka melakukan hubungan layaknya suami istri, dan bagian bawah perut Ajo Kawir dapat berfungsi. Ajo Kawir bahagia dan akan segera pulang untuk menemui istrinya, Iteung.
Iteung masuk penjara karena telah membunuh Budi Baik. Sewaktu ia akan keluar dari penjara, ia diberitahu Pak Gembul mengenai asal-muasal bagian tubuh suaminya, yakni Ajo Kawir, mendapat gangguan. Ia menyarankan Iteung untuk membalaskan dendam suaminya dengan membunuh dua polisi yang telah menyebabkan Ajo Kawir menjadi seperti itu. Iteung menyetujuinya.
Ajo Kawir pulang dan bertemu dengan anak gadisnya. Mereka berpelukan. Sang anak bertanya ke mana ibunya. Sang ayah berkata bahwa tidak lama lagi ibunya datang. Ajo Kawir dan Iteung akhirnya bertemu. Iteung sungguh merindukan Ajo Kawir begitu pula Ajo Kawir. Mereka berbincang di dalam kamar dan Ajo Kawir mengatakan pada istrinya bahwa bagian perutnya telah dapat menjalankan fungsinya. Namun, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Polisi datang untuk menangkap Iteung karena telah membunuh dua polisi. Ajo Kawir menarik napas, ia harus kembali menunggu.
Kurniawan, Eka. 2014. Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Wih, terima kasih atas ringkasan hasil membacamu, Mbak. Saya merasa seperti melihat slide ppt yg berjalan cepat, anehnya sudah menyerap banyak materi yg terlewat. Salute! Menunggu hasil bacaan karya sastra lain darimu~ Bangkitlah para penulis wanita!
BalasHapusWah, terima kasih Venty. InsyaAllah semoga bisa konsisten menulis. Semoga kita dapat memberi kontribusi pada negeri kita tercinta dengan tulisan sederhana ini. Sukses untukmu Ven! Kutunggu pula tulisan darimu~
BalasHapus