Sekilas, dapat ditarik bahwa dari judul yang dihadirkan akan ditemui karakter berbeda dalam diri seseorang. Setiap orang memiliki rahasia di balik karakter yang terlihat. Salah satu ketertarikan saya memilih novel tersebut sebagai bacaan karena tidak sengaja menonton televisi dengan tayangan sosok inspiratif yang berprofesi sebagai dokter, tetapi memiliki segudang karya kepenulisan cerita fiksi, yaitu novel. Beliau adalah Mira W. Novel berjudul Relung-relung Gelap Hati Sisi yang saya baca ini diterbitkan pada tahun 2009 dengan 275 halaman yang saya beli di Pasar Buku Wilis, Malang pada bulan-bulan akhir di tahun 2015. Saya menemukan buku catatan saya yang berisi rangkaian ringkasan buku dan rasanya sayang jika tidak diabadikan di blog saya. Setiap karangan memiliki nyawa, menimbulkan emosi, rasa penasaran beserta jawabannya. Inilah sekilas rangkuman novel karya Mira W. dengan judul Relung-relung Gelap Hati Sisi. Seorang ...
Tulisan ini saya dedikasikan untuk teman saya berinisial A. Betapa kejutan yang tiba-tiba menghampirinya, membuatnya shock begitu pula aku. About Love!
Kami memiliki masa lalu dengan orang terkasih, orang-orang menyebutnya "mantan", yang tidak jauh berbeda. Sama-sama berakhir tragis. Antara ditinggal dan dibohongi. Lambat laun kami mulai menerima takdir. Memang inilah jalan yang harus kami lewati. Sakit? Jangan ditanya jika kalian sering nonton drama di Indosiar dan menyepelekannya. Dulu, saya sering berkomentar tentang drama-drama di televisi yang salah satu pasangan teramat sayang terhadap kekasih bahkan setelah ditinggalkannya sekalipun. Saya bilang, "omong kosong!", dan tak lama setelah itu, saya menjilat ludah saya sendiri.
Temanku A bercerita tentang lelaki idamannya yang ketika ditarik benang merah, mereka berdua adalah kawan akrab di waktu kecil karena terlibat dalam satu hobi yang sama, yaitu bulu tangkis. Perasaan sayang ketika kecil, mungkin diartikan keduanya sebagai persahabatan. Namun, semakin ke arah usia yang semakin matang, temanku A selalu terngiang dengan kawan kecilnya tersebut, sebut saja S. Mereka kerap entah sengaja atau taksengaja selalu dipertemukan. Yogya, adalah kota bersejarah pertemuan keduanya.
Kegalauan demi kegalauan terjahit mesra di benak temanku A. Bagaimana tidak, seseorang yang dianggapnya tak mungkin, tiba-tiba dengan penyampai pesan kilat secepat larinya Sonic, mengubah kata menjadi mungkin. Inilah rahasia yang Allah janjikan kepada seluruh hambanya atas buah yang dipetik dari kesabaran.
Sampai detik saya menulis kalimat ini, saya benar-benar masih tidak percaya. Betapa ketulusan cinta yang tersimpan rapi dapat tertembus oleh ketulusan yang sama dan dengan orang yang sama? Saya benar-benar ingin berkata, What?? Mungkinkah saya tidak percaya karena belum mengalaminya? Bukan, bukan karena itu, mungkin karena saya mengetahui alur perasaan temanku A yang selalu dibagikannya pada saya. Ia bercerita alasan memilih S sebagai sasaran idaman, dan alur hubungannya dengan S.
Saya menangkap S tidak memiliki perasaan pada A atau memiliki tetapi sedikit, saya bisa menjelaskan hal tersebut sebagai kelambatan S dalam membaca pikiran temanku A dan menganggap A sebagai "hanya" kawan dekatnya. Ternyata? Saya salah!
Lebih dari itu.
Saya sebenarnya masih sangat penasaran. Bagaimana ungkapan "klik" tersebut bisa terceletuk. Namun saya percaya, dengan siapapun kamu ingin merajut mimpi, sebanyak apapun doa yang kau kirim, seberapa rapi kau menyimpan rasa itu, simpulnya tetap dipegang oleh Yang Mahakuasa. Dan untuk mereka, A dan S. Kalian telah menemukan simpul itu dari-Nya. Selamat! Silakan dijaga pertalian itu hingga tiba waktunya untuk benar-benar tersimpul menyatu di hadapan-Nya, di depan Bapak-Ibu-keluarga-dan saudara, dengan membawa buku kecil seukuran notebook mini warna merah dan hijau tua yang bergambar Burung Garuda lengkap dengan tulisan Kementerian Agama Republik Indonesia!
Salam bahagia dariku untukmu wahai sahabatku.
Kami memiliki masa lalu dengan orang terkasih, orang-orang menyebutnya "mantan", yang tidak jauh berbeda. Sama-sama berakhir tragis. Antara ditinggal dan dibohongi. Lambat laun kami mulai menerima takdir. Memang inilah jalan yang harus kami lewati. Sakit? Jangan ditanya jika kalian sering nonton drama di Indosiar dan menyepelekannya. Dulu, saya sering berkomentar tentang drama-drama di televisi yang salah satu pasangan teramat sayang terhadap kekasih bahkan setelah ditinggalkannya sekalipun. Saya bilang, "omong kosong!", dan tak lama setelah itu, saya menjilat ludah saya sendiri.
Temanku A bercerita tentang lelaki idamannya yang ketika ditarik benang merah, mereka berdua adalah kawan akrab di waktu kecil karena terlibat dalam satu hobi yang sama, yaitu bulu tangkis. Perasaan sayang ketika kecil, mungkin diartikan keduanya sebagai persahabatan. Namun, semakin ke arah usia yang semakin matang, temanku A selalu terngiang dengan kawan kecilnya tersebut, sebut saja S. Mereka kerap entah sengaja atau taksengaja selalu dipertemukan. Yogya, adalah kota bersejarah pertemuan keduanya.
Kegalauan demi kegalauan terjahit mesra di benak temanku A. Bagaimana tidak, seseorang yang dianggapnya tak mungkin, tiba-tiba dengan penyampai pesan kilat secepat larinya Sonic, mengubah kata menjadi mungkin. Inilah rahasia yang Allah janjikan kepada seluruh hambanya atas buah yang dipetik dari kesabaran.
Sampai detik saya menulis kalimat ini, saya benar-benar masih tidak percaya. Betapa ketulusan cinta yang tersimpan rapi dapat tertembus oleh ketulusan yang sama dan dengan orang yang sama? Saya benar-benar ingin berkata, What?? Mungkinkah saya tidak percaya karena belum mengalaminya? Bukan, bukan karena itu, mungkin karena saya mengetahui alur perasaan temanku A yang selalu dibagikannya pada saya. Ia bercerita alasan memilih S sebagai sasaran idaman, dan alur hubungannya dengan S.
Saya menangkap S tidak memiliki perasaan pada A atau memiliki tetapi sedikit, saya bisa menjelaskan hal tersebut sebagai kelambatan S dalam membaca pikiran temanku A dan menganggap A sebagai "hanya" kawan dekatnya. Ternyata? Saya salah!
Lebih dari itu.
Saya sebenarnya masih sangat penasaran. Bagaimana ungkapan "klik" tersebut bisa terceletuk. Namun saya percaya, dengan siapapun kamu ingin merajut mimpi, sebanyak apapun doa yang kau kirim, seberapa rapi kau menyimpan rasa itu, simpulnya tetap dipegang oleh Yang Mahakuasa. Dan untuk mereka, A dan S. Kalian telah menemukan simpul itu dari-Nya. Selamat! Silakan dijaga pertalian itu hingga tiba waktunya untuk benar-benar tersimpul menyatu di hadapan-Nya, di depan Bapak-Ibu-keluarga-dan saudara, dengan membawa buku kecil seukuran notebook mini warna merah dan hijau tua yang bergambar Burung Garuda lengkap dengan tulisan Kementerian Agama Republik Indonesia!
Salam bahagia dariku untukmu wahai sahabatku.
Komentar
Posting Komentar