Sekilas, dapat ditarik bahwa dari judul yang dihadirkan akan ditemui karakter berbeda dalam diri seseorang. Setiap orang memiliki rahasia di balik karakter yang terlihat. Salah satu ketertarikan saya memilih novel tersebut sebagai bacaan karena tidak sengaja menonton televisi dengan tayangan sosok inspiratif yang berprofesi sebagai dokter, tetapi memiliki segudang karya kepenulisan cerita fiksi, yaitu novel. Beliau adalah Mira W. Novel berjudul Relung-relung Gelap Hati Sisi yang saya baca ini diterbitkan pada tahun 2009 dengan 275 halaman yang saya beli di Pasar Buku Wilis, Malang pada bulan-bulan akhir di tahun 2015. Saya menemukan buku catatan saya yang berisi rangkaian ringkasan buku dan rasanya sayang jika tidak diabadikan di blog saya. Setiap karangan memiliki nyawa, menimbulkan emosi, rasa penasaran beserta jawabannya. Inilah sekilas rangkuman novel karya Mira W. dengan judul Relung-relung Gelap Hati Sisi. Seorang ...
Sebuah negeri nan besar dikelilingi ragam budaya dan keunikan tersebar mulai Sabang hingga Merauke, di dalamnya berdesakan potensi alam nan tumbuh tumbur bak panen raya, inilah Indonesia. Titipan Yang Mahakuasa yang perlu kita kelola dengan baik dengan memulainya dari kesadaran dan keikhlasan untuk membangunnya. Memadukan kesadaran dan keikhlasan tersebut menjadi satu kata bernama belajar.
Mengapa harus kata belajar? Jawabannya cukup singkat, karena ilmu. Ilmu akan diperoleh melalui kegiatan belajar. Ketika seseorang memiliki ilmu dan menularkannya kepada orang lain, orang yang terberi ilmu akan terbuka wawasannya, dan di saat terdapat orang yang membutuhkannya, ilmu tersebut bisa ditularkan kembali. Seperti itulah ilmu, bak roda yang selalu berputar, bak mentari yang selalu bersinar. Mungkin terlihat sederhana, tetapi memberi pengaruh yang tidak sederhana. Ia akan terus mengalir, berguna, dan menjadi petunjuk bagi para penggunanya.
Selalu mencoba dan ingin tahu, inilah yang dinamakan bagian dari belajar. Terkadang berujung indah (berhasil), tidak menutup kemungkinan berakhir tanpa kata sepakat. Setidaknya dari rangkaian proses terangkai pula suatu pembelajaran. Lantas, jika dikaitkan dengan bangsa ini, dua pertanyaanpun berdesakan muncul.
Bagaimanakah nasib bangsa saat ini? Sudahkah masing-masing pribadi turut andil, berkontribusi, dan bertanggung jawab terhadap kelangsungan bangsa ini?
Bagaikan sebuah pelangi, ia dikatakan pelangi ketika ketujuh warna muncul dan menyatu. Mari turut menjadi bagian dari warna pelangi yang mampu memunculkan dan menyatukan negeri ini menjadi sebuah pelangi nan indah dengan kilau ketujuh warnanya.
Mengapa harus kata belajar? Jawabannya cukup singkat, karena ilmu. Ilmu akan diperoleh melalui kegiatan belajar. Ketika seseorang memiliki ilmu dan menularkannya kepada orang lain, orang yang terberi ilmu akan terbuka wawasannya, dan di saat terdapat orang yang membutuhkannya, ilmu tersebut bisa ditularkan kembali. Seperti itulah ilmu, bak roda yang selalu berputar, bak mentari yang selalu bersinar. Mungkin terlihat sederhana, tetapi memberi pengaruh yang tidak sederhana. Ia akan terus mengalir, berguna, dan menjadi petunjuk bagi para penggunanya.
Selalu mencoba dan ingin tahu, inilah yang dinamakan bagian dari belajar. Terkadang berujung indah (berhasil), tidak menutup kemungkinan berakhir tanpa kata sepakat. Setidaknya dari rangkaian proses terangkai pula suatu pembelajaran. Lantas, jika dikaitkan dengan bangsa ini, dua pertanyaanpun berdesakan muncul.
Bagaimanakah nasib bangsa saat ini? Sudahkah masing-masing pribadi turut andil, berkontribusi, dan bertanggung jawab terhadap kelangsungan bangsa ini?
Bagaikan sebuah pelangi, ia dikatakan pelangi ketika ketujuh warna muncul dan menyatu. Mari turut menjadi bagian dari warna pelangi yang mampu memunculkan dan menyatukan negeri ini menjadi sebuah pelangi nan indah dengan kilau ketujuh warnanya.
Komentar
Posting Komentar